Saturday, 25 May 2013



                                                              
Sahabat terkasih! Dalam Injil Yohanes 14:12 Tuhan Yesus bersabda: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia juga akan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar daripada itu." Di sini Tuhan Yesus menunjukkan betapa hebatnya orang yang percaya bahwa Tuhan Yesus dan Bapak/Allah adalah satu (mari kita membaca bersama). Y mengatakan, barangsiapa percaya kepada-Ku, dengan kata ‘barang-siapa’ Tuhan Yesus tidak memaksa orang untuk percaya. Terserah kamu, kira-kira demikian. Barangsiapa percaya, kata ‘percaya’ di sini bukan pernyataan biasa seperti yang biasa kita ucapkan. tetapi percaya dalam ayat ini berarti bergaul-akrab dengan Tuhan Yesus dan mempertaruhkan harapan/cita2 kepada Tuhan Yesus. Mereka yang bergaul akrab dan mempertaruhkan hidupnya kepada Tuhan Yesus akan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang Tuhan Yesus lakukan selama di dunia. Pertanyaannya: apakah yang Tuhan Yesus lakukan selama berada di dunia? Menurut Injil Lukas 4:18, 19, Tuhan Yesus diurapi untuk (1) menyampaikan kabar baik bagi orang miskin, (2) membebaskan orang2 tawanan, (3) membuat orang buta melihat, (4) membebaskan orang tertindas, dan (5) mengumumkan tahun rahmat Tuhan sudah datang. Kita yang percaya kepada Tuhan Yesus dituntut untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan itu.
            Bagaimana caranya? Tentu saja Tuhan Yesus tidak menyuruh kita untuk membuat mujizat seperti yang dulu Ia lakukan. Kita bisa melanjutkan perbuatan-perbuatan Yesus dengan cara lain. Misalnya, kalau pemuda menyampaikan kabar baik buat orang miskin maka yang bisa pemuda lakukan adalah mendata orang-orang yang menganggur lalu diberi kursus-kursus ketrampilan (menjahit, muntir, musik) supaya kelak mereka bisa mandiri secara ekonomi. Membebaskan orang tertindas bisa dilakukan oleh siapa saja. Caranya: mengecek para pembantu rumah tangga (PRT) yang sering ditindas oleh majikan, yang gajinya tidak dibayar. Beri mereka bantuan, mungkin dengan cara berunding dgn majikan supaya mereka diperlakukan dengan adil. Melobi para majikan agar memberikan waktu bagi para PRT untuk beribadah, membantu PRT mengikuti kursus di luar rumah supaya mereka mempunyai ketrampilan lain dan jangan menjadi PRT seumur hidup. Mencelekan mata orang buta bukan sekedar doa supaya orang buta bisa melihat, bukan itu tugas kita. Yang bisa kita buat adalah melatih mereka dengan ketrampilan bernyanyi atau musik supaya mereka yang buta dapat tampil percaya diri seperti kita yang melek. Ada begitu banyak hal yang bisa dibuat oleh pemuda-pemuda dalam rangka melanjutkan pekerjaan-pekerjaan Tuhan Yesus. Bahkan dalam Yohanes 14:12 Yesus berkata, kamu pemuda-pemuda bisa melakukan lebih dari apa yang pernah Yesus lakukan. Maksud Yesus dengan kata-kata itu yakni ketika jaman makin modern akan muncul banyak penyakit sosial. Misalnya, dulu waktu Yesus melayani di dunia, tidak ada pecandu narkoba, tidak ada HIV/AIDS, tidak ada flu burung, tidak ada kelompok-kelompok geng, dll tapi sekarang ada di mana-mana. Di dalam situasi seperti itu kata-kata Yesus menjadi jelas bahwa kamu akan melakukan lebih dari apa yang Aku lakukan. Maksudnya warga gereja kini perlu melakukan sesuatu untuk menyelamatkan kaum muda dari penyakit-penyakit sosial seperti yang saya sebutkan di atas. Tentu saja tidak semua yang saya katakan tadi harus dilakukan. Pilihlah pekerjaan yang bisa dilaksanakan untuk kepentingan sesama gereja kini.

Sunday, 16 May 2010

DIBENARKAN KARENA IMAN (Roma 5:1-11)

Saudara! Apa maksudnya kalau Alkitab berkata: kita telah dibenarkan karena iman? Apakah karena kita ini orang-orang benar? Tidak saudaraku! Kita adalah orang berdosa, kita adalah musuh-musuh Allah karena kita selalu melakukan apa yang bertentangan dengan kehendak Allah. Karena kita adalah orang berdosa maka kita patut dihukum dengan hukuman yang kekal, yaitu hukuman neraka. Tapi saat kita mau dihukum, Yesus datang ke dunia dan bersedia menderita untuk menghapus dosa-dosa kita. Jadi, kita yang seharusnya menanggung akibat dari dosa kita, tetapi ketika kita ada di depan penjara dan siap dihukum, ada seseorang yang datang dan bersedia dipenjara menggantikan kita sehingga kita luput dari hukuman. Jadi kita dibenarkan oleh iman, artinya kita sadar bahwa kita ini adalah orang-orang berdosa. Akan tetapi kita percaya bahwa Yesus sudah mati menggantikan kita. Darah Yesus telah mendamaikan kita dengan Allah. Karena itu kita yang percaya kepada Yesus sudah berdamai dengan Allah dan kita pun sudah bebas dari hukuman maut.

Pertanyaan bagi kita adalah: kalau kita sudah berdamai dengan Allah mengapa Roh Kudus itu datang lagi ke dunia? Mengapa Roh Kudus harus turun pada hari Pentakosta? Dalam ayat 5 dikatakan bahwa karena kita sudah berdamai dengan Allah maka Allah mengutus Roh Kudus untuk menanamkan benih kasih Allah itu di dalam hati kita. Itu adalah salah satu tujuan dari adanya Roh Kudus. Kalau kita percaya bahwa Roh Kudus bertugas menanam kasih Allah dalam hati kita maka itu bahasa simbolik. Maksudnya adalah bahwa hati kita ini ibarat ladang. Roh Kudus bertugas membersihkan ladang hati kita, membakar semak duri yang ada di hati kita, mencabuk akar-akar rumput duri dalam hati kita dan membakarnya, membakar rasa benci dalam hati kita, dan sesudah hati kita bersih maka Roh Kudus menanam benih kasih Allah itu di dalam ladang hati kita. Jadi Roh Kudus seakan-akan sebagai seorang petani yang bekerja di sawah atau ladang. Ia tanam benih atau bibit kasih Allah itu dan Ia tetap merawat benih itu supaya bertumbuh dan memberi buah. Kalau benih yg ditanam itu adalah Kasih Allah maka ia akan bertumbuh dan menghasilkan berlimpah-limpah kasih.

Ada banyak bukti menunjukan bahwa kasih Allah sedang tumbuh dalam hati seseorang. Misalnya orang itu suka mengasihi sesama, orang itu mau berdamai dengan musuh, orang itu hidup dengan rasa sukacita, dia punya pengharapan atau tidak gampang putus asa, orang itu sabar menanggung penderitaan, orang itu suka bermurah hati, ia tidak suka cemburu, tidak sombong, dan ia akan berlaku setia, setia mengiring Tuhan, setia memikul salib Tuhan, tekun dan tahan uji. Ini semua adalah hal-hal yang ada dalam hati orang-orang yang telah menerima Roh Kudus dan kasih Allah telah tertanam dalam hatinya.

Lalu kalau begitu, pertanyaan untuk kita selanjutnya adalah: untuk apakah kita perlu memiliki sifat-sifat tersebut? Kita perlu memiliki sifat-sifat ini karena memang status kita sudah berubah. Dalam ayat 8-11 jelas dikatakan bahwa setelah Yesus bangkit dan naik ke surga, setelah Roh Kudus diberikan kepada kita, maka status kita telah berubah secara total. Dulu kita menjadi musuh/seteru Allah, tapi sekarang kita adalah sahabat Allah. Dahulu kita belum mengenal Yesus tetapi kini kita sudah mengenal Yesus. Dahulu kita belum menerima Roh Kudus tetapi sekarang Roh Kudus sudah berdiam dalam hati kita. Dahulu kita adalah orang2 binasa tp sekarang sekarang kita sudah diselamatkan oleh Yesus Kristus.

Masalahnya sekarang adalah apakah kita siap diperdamaikan dengan Allah atau tidak? Apakah kita bersedia membuka ladang hati kita supaya Roh Kudus menanam benih kasih itu atau tidak? Kalau saudara/saya mau berdamai dengan Allah maka percayalah sungguh-sungguh kepada Yesus, sang Juruselamat itu; ikutlah perintah-Nya, dan terimalah Roh Kudus supaya Roh Kudus menuntun saudara/saya ke jalan yang benar. Kiranya Roh Kudus menuntun kita dalam hidup dan perjuangan kita selanjutnya. Amin.

Friday, 8 August 2008

Has My Dream Been Reached (?)

Petang ini, Jumat 8 Agustus 2008, bertempat di Holendrechstraat nomor 7/II 1078 TM kota Amsterdam negeri kincir angin, aku diliputi rasa haru bercampur suka karena telah berhasil menyelesaikan studi Master-ku (MA) di Vrije Universiteit Amsterdam. Aku menerima kenyataan ini sebagai anugerah dari Tuhan yang patut ku syukuri.

Setelah menyelesaikan studi Master (MTh.) di UKDW Jogjakarta tahun 2003, aku kembali ke Kupang dan tidak lagi berharap untuk melanjutkan studi. Ada tiga alasan yang membuat aku pesimis: (1) umurku sudah di atas empat puluh tahun, dan (2) karena itu aku sulit memperoleh beasiswa (3), dan lagi kemampuan belajarku makin menurun. Anakku yang sulung (Imanuel Suwenda , 12 thn) sangat mengerti tentang keadaanku, sampai suatu ketika (Desember 2007) ia berkata: “Bapak barenti sekolah su…! Umur kayak bapak sebaiknya siap biaya untuk anak sekolah...”

Dalam situasi yang tidak menentu seperti yang aku gambarkan di atas, pada bulan November 2005 aku melamar ke IIEF Jakarta untuk diikutkan sebagai penerima bea siswa studi lanjut ke tingkat doktoral. Beberapa bulan kemudian (Mei 2006) aku ditelepon oleh IIEF Jakarta bahwa beasiswa telah tersedia tapi hanya untuk studi Magister. Aku menyatakan bersedia menerima beasiswa tersebut walau hanya untuk program magister. Kemudian aku diundang untuk mengikuti wawancara di Hotel Kristal, Kupang dan pada bulan September 2006 aku diundang lagi oleh IIEF untuk mengikuti kursus bahasa Inggris. Kursus di PPB UI Salemba Jakarta baru berakhir pada bulan Maret 2007.

Pada tanggal 16 April 2007, aku berangkat menuju Belanda bersama teman-temanku: Buyung, Zefri, Azis, Yanni, Amira, Nurman, dan Renvi. (tiga orang teman lainnya, Chaty, Mar, dan Zumroh, baru menyusul pada bulan Juni 2007). Setelah semalam menginap di Bandar Internasional Kualalumpur, kami melanjutkan perjalanan ke Belanda dan tiba di Maastricht pada tanggal 17 April 2007.

Bertempat di Center for European Studies, Universiteit Maastricht, aku mengikuti Pre-Master bersama teman-teman tersebut dan juga beberapa teman lain dari Brasil, Mozambique, India, dan Thailand, selama empat bulan. Aku baru pertama kali mengalami pendidikan di LN sejak itu. Seperti di Indonesia, di mana yang tua ‘dihormati’, maka aku dipilih oleh teman-teman dari Indonesia untuk menjadi Indonesian students representative selama Pre Academic Training (PAT).

Satu hal yang sangat menyedihkan aku alami di Maastricht, yakni ketika hasil IELTS ku (dan beberapa teman) tidak mencapai standard yang diminta oleh Universitas tujuan. Aku tidak bisa tidur. 'Mungkin aku pulang'. 'Dan karena malu, aku pasti tidak kembali ke Kupang,' pikirku saat itu. Tetapi, syukurlah! Ketika aku mengontak professor di VU, ternyata beliau mengambil kebijakan lain: “You have been accepted”, katanya. Berita ini aku terima jauh sebelum teman-teman lain menerima kepastian. Tapi, aku harus sabar karena rasa solider dengan mereka yang tidak mencapai nilai IELTS dan yang belum mendapat kepastian diterima. Dua minggu kemudian kami semua diterima, dan kami berpisah ke masing-masing universitas dengan linangan air mata.

Ceriteranya tidak berakhir di situ. Satu minggu sebelum masuk kuliah, aku dirundung rasa takut. Koordinator program mengirim satu paper assignment (kira-kira berjumlah 14 halaman) dengan pesan supaya segera menyelesaikan paper itu dan menyerahkannya pada tatap muka pertama di kelas. Walau sudah diberi assignment, kami disibukkan dengan hal-hal lain seperti mengurus ijin tinggal di Imigrasi, registrasi, hadir pada acara-acara perkenalan di kampus dan di rumah dosen, dan lain-lain. Waktu untuk membaca buku-buku dan mengerjakan paper benar-benar tersita. Bayang-bayang kegagalan makin menghantui. Terpaksa waktu tidurku ku kurangi. Aku baru menyelesaikan paper perdana itu 10 menit sebelum class dimulai.

Proses perkuliahan di VU tidak jauh berbeda dengan universitas lain di Holland. Pada tatap muka pertama, sang professor menjelaskan tentang silabus MK yang bersangkutan disertai bibliography yang harus dibaca/diringkas sebelum menghadiri kuliah. Biasanya topic bahasan untuk tatap muka pertama disiapkan oleh dosen tapi untuk tatap muka selanjutnya disiapkan oleh mahasiswa. Ketika dosen menjelaskan silabus MK, sekaligus diberi tugas kepada tiap mahasiswa untuk menyiapkan materi pada tatap muka-tatap muka selanjutnya. Materi yang disiapkan oleh tiap mahasiwa harus dikirim melalui email kepada dosen dan masing-masing mahasiswa tiga hari sebelum tatap muka dimulai. Dengan begitu diharapkan dosen dan mahasiswa sudah membaca bahan tersebut dan menyiapkan pertanyaan sebelum memasuki kelas.

Ada beberapa kesulitan lain yang aku alami pada minggu-minggu pertama proses kuliah di VU. (1) Berhubung Ford Foundation belum membayar uang kuliah sesuai dengan jumlah yang ditentukan, maka kartu mahasiswa ku belum bisa diaktifkan, dan karena itu aku tidak memperoleh kode akses ke internet kampus, juga tidak bisa meminjam buku dari Library. Masalah ini baru bisa diatasi setelah dua minggu kuliah berlangsung. (2) Karena keterlambatan pada point pertama, maka aku terlambat memprogram MK. Program MK biasa dilaksanakan melalui ‘blackboard’ menggunakan kode akses internet kampus yang akan diberikan kepada mahasiswa kalau mahasiswa yang bersangkutan sudah melunasi semua pembayaran. (3) Mengakses ‘blackboard’ dengan kode akses yang diberikan kampus itu tidak begitu mudah karena hampir semua computer kampus sudah disetting menggunakan bahasa Belanda, bahasa yang tidak pernah aku pelajari sebelumnya. (4) Aku juga mengalami kesulitan untuk mengikuti sharing di kelas karena masalah bahasa. Aku lebih mengerti kalau orang Belanda ngomong daripada orang asal Amerika dan beberapa Negara Africa. Mereka mempunyai cara pengucapan yang berbeda dan tidak cocok dengan memoriku. Aku baru bisa mengikuti kuliah dengan baik pada bulan kedua dari masa perkuliahanku.

Di samping kesulitan-kesulitan tersebut, aku juga punya pengalaman-pengalaman menarik, misalnya: (1) jarak antara dosen dan mahasiswa hamper-hampir tidak ada. Dosen bisa disapa dengan nick name saja. (2) Pendapat seseorang dihargai tinggi. (3) Disiplin waktu. (4) Belajar mandiri tanpa disuruh oleh orang lain. (5) Belajar dengan mahasiswa dari banyak bangsa di dunia benar-benar memperkaya ku.

Sedikit mengenang ke belakang. Pada pertengahan bulan Pebruari dan Maret 1992, aku sakit keras dan menginap di Bangsal 3 RSU Prof. Dr. W. Z. Johanes Kupang selama hampir tiga minggu. Menjelang sembuh aku bermimpi kalau aku sedang berjalan di atas bukit-bukit awan pada sebuah kutub bumi. Sejak itu aku bertanya-tanya: apa makna di balik mimpi tersebut? Di kemudian hari, pada tanggal 29 Juni 2008, kira-kira 2 jam sebelum tiba kembali di Amsterdam, aku melihat gumpalan-gumpalan awan tebal di kutub Utara dari atas pesawat Malaysia Air, dan aku mengenang kembali mimpi ku di awal tahun 1992. Tanpa sadar air mata ku menetes ke atas kedua pelipis ku dan hatiku berbisik: “Terima kasih Tuhan, karena rencana-Mu sangat indah”.

Rasa haru bercampur suka kembali ku alami malam ini ketika aku membaca komentar dari dua orang professor yang sudah membaca thesis ku. Komentar pertama dari Prof. Dr. J. Hans de Wit, supervisor ku di VU:

Dear Welfrid,

I finished reading your thesis. I must say I like it very much. The empirical part is well elaborated, nice and instructive answers of the respondents. The cultural component comes nicely to the fore. It is consistent, with a nice structure and good argument. The language is good, concise and has only some minor things to improve. My compliment for all this. You did a wonderful and fruitful job, promising for the future and for elaborating this kind of contextual Indonesian hermeneutics much more.

Warm regards,
Hans de Wit

Komentar kedua dari Prof. Dr. Kaas Spronk dari Kampen Univesity:

Dear Welfrid,

Thank you very much for your thesis and congratulations with finishing this at first sight very interesting work. I will be happy to talk with you and Hans de Wit about your plans for future studies. I am very interested in working with you.

With kind regards,

Klaas Spronk

Tuesday, 25 September 2007

AKANKAH DUNIA KIAMAT PADA 10 NOVEMBER

Beberapa bulan terakhir ini kita dikejutkan oleh secarik brosur berjudul: Kiamat Dunia Segera Akan Terjadi. Brosur ini ditulis oleh seseorang yang menyebut diri Paulus II, Rasul Allah di Akhir Zaman. Dia yang beralamat di Jl Pasirmalang 37 Bandung Selatan Jawa Barat ini memastikan bahwa Akhir Zaman akan tiba pada tanggal 10 November 2003 tepat pukul 09.00-15.00 (WIB). Waktu itu gereja Tuhan akan diangkat dan roh anti Kristus mulai memerintah dunia.

Bagaimana sang ‘rasul’ tiba pada kesimpulan itu? Ia menjelaskan, bahwa dirinya telah berdialog langsung dengan pribadi Roh Kudus selama 36 jam tentang akhir zaman. Dan Roh Kudus meminta kepadanya untuk berpuasa (pantang makan dan minum) selama 30 hari, 40 hari, dan 3 hari 3 malam. Sulit, ya memang! Tapi tak perlu risau, sebab sang ‘rasul’ sudah biasa puasa.


Lalu bagaimana jika Akhir Zaman tidak terjadi pada tanggal 10 November 2003? Ditegaskan bahwa Allah bukan manusia sehingga Ia berdusta (Bil 23:19). Kalau Allah berdusta atau menunda kedatangan-Nya sesudah 10 November maka pasti manusia tidak akan percaya lagi akan berita kedatangan-Nya. Karena alasan itu maka sang rasul Bandung ini menegaskan, kiamat pasti tiba tepat pada waktu yang sudah ditentukan.

Kalau begitu apa yang diharapkan oleh Rasul Dunia ini? Ia menulis: ”BERTOBATLAH! Masuk Pondok Nabi (maksudnya: datang ke Bandung, penulis) supaya bisa mendengar suara Tuhan”. Dan lanjutnya: “Jikalau anda pun rindu untuk mendengar pernyataan Allah tentang tanggal 10 Nov 2003, syaratnya adalah anda harus dibaptis Roh Kudus dengan tanda berkata-kata dengan berbagai-bagai bahasa sebagaimana yang diilhamkan Roh Kudus, dan setelah itu anda pun akan mendengar langsung dari Tuhan”.

Mau coba? Silahkan! Tapi bukan baru kali ini kita mendengar ramalan tentang kiamat. Pada paroh kedua dekade 1980-an sekelompok sekte kristen di Amerika membuat ramalan yang sama. Tahun 1990-an di Korea Selatan juga muncul ramalan serupa. Tapi Tuhan selalu tidak jadi datang pada tanggal yang ditentukan. Di pertengahan tahun 2003 ini kiamat dunia dikumandangkan sekali lagi. Menarik bahwa kali ini justru ramalan itu datang dari seorang warga negara Republik Indonesia yang menyebut dirinya sebagai Rasul dan Nabi Dunia. Sang ‘nabi’ ikut mencela ramalan-ramalan sebelumnya sebagai tipu muslihat akal manusia. Sedangkan kali ini, katanya, Allah langsung berbicara kepadanya melalui Roh Kudus dalam suatu dialog dan ini pasti terjadi. Percaya ko sonde?

Rupanya sejumlah kalangan menanggapi secara serius akan isi brosur tersebut. Beberapa orang kristen asal Kupang telah menjual seluruh hartanya dan berangkat ke Bandung untuk menanti akan tibanya hari kiamat. Tetapi sayang. Sebagian terpaksa kembali pada pertengahan Juni lalu karena kehabisan bekal. Setiba di Kupang, mereka panik, bingung, sedih karena mereka harus mulai lagi dari nol. Siapa yang salah? Tidak ada yang layak dipersalahkan. Dalam brosur itu Paulus II menulis bahwa tentang kedatangan-Nya, Tuhan tidak berbicara kepada para Pendeta dan para Sarjana atau Master Teologi kecuali kepada Rasul dan Nabi-Nya yang ada di Bandung. Karena itu anggota dan Majelis jemaat yang sempat ke Bandung, pergi tanpa konsultasi dengan para hamba Tuhan ini karena mereka dianggap tidak tahu-menahu tentang hari kiamat.

Saya tidak menganggap enteng akan ‘nubuat’ yang disampaikan itu apalagi dengan menyebut nama Tuhan. Kita semua sependapat bahwa memang ada suatu waktu yang Tuhan persiapkan untuk kedatangan-Nya. Tetapi kapan dan dengan cara bagaimana, tidak cukup bukti pada Alkitab yang bisa dipakai sebagai acuan. Itu sebabnya jika ada pihak yang sampai menentukan waktu pasti maka kita merasa aneh. Sebagai orang Kristen kita mendapat pesan Yesus dalam Injil supaya tetap waspada dan tidak berhenti menilai secara kristis setiap berita yang datang dari pihak manapun. Yesus berkata: "Waspadalah, supaya kamu jangan disesatkan. Sebab banyak orang akan datang dengan memakai nama-Ku dan berkata: Akulah Dia, dan: Saatnya sudah dekat. Janganlah kamu mengikuti mereka (Luk 21:8). Mempertegas kata-kata Yesus itu, Yohanes menulis: Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah; sebab banyak nabi-nabi palsu yang telah muncul dan pergi ke seluruh dunia (1 Yoh 4:1).
Dalam rangka pengujian roh itulah maka (sambil memohon bimbingan Tuhan) saya ingin menjelaskan keyakinan saya sebagai berikut: pertama, tidak ada seorang manusia atau malaikat pun yang diberi ijin atau pun hak oleh Allah untuk menentukan secara pasti hari kiamat itu. Yesus yang kita yakini sebagai Tuhan telah berkata dengan jujur: “Tetapi tentang hari atau saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa saja"(Mrk 13:32). Kalau Anak Allah sendiri tidak tahu tentang hari kiamat apatah lagi kita manusia. Allah mempunyai hak istimewa untuk menentukan hari kiamat. Sebab itu usaha (bergumul) untuk mencari tahu kapan tiba waktunya adalah usaha yang sudah melampaui batas-batas wewenang kita sebagai manusia. Ia telah menerobos masuk ke dalam wilayah kewenangan Allah. Siapa berani?

Kedua, untuk membenarkan pendapatnya, Paulus II mengutip 1 Korintus 2:10. Dikatakan, Roh Kudus lah yang tahu akan hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah maka Roh Kudus juga lah yang kemudian memberitahukan segala rahasia itu kepada manusia, termasuk hari kiamat. Padahal nats yang dikutip itu tidak berkaitan dengan hari kiamat. Di dalam 1 Korintus 2:10 Rasul Paulus menjelaskan kepada musuh-musuh Injil di Korintus tentang hikmat Allah yang tersembunyi dan yang telah dinyatakan di dalam Kristus melalui kelahiran, kematian dan kebangkitanNya. Roh Kudus berfungsi untuk menjelaskan kepada para pendengar tentang rahasia kehadiran Kristus di dunia supaya para pendengar menerima-Nya. Jadi ayat itu tidak berbicara tentang fungsi Roh Kudus untuk membuka rahasia hari kiamat.


Ketiga, jika Allah merahasiakan hari kiamat, maka sebetulnya Allah menghendaki agar manusia jangan berpura-pura. Sebab mengetahui secara pasti hari kiamat itu hanya akan menciptakan manusia-manusia munafik. Karena jadwal kiamat mendekat lalu orang rame-rame bertobat. Para koruptor tiba-tiba menjadi donatur-donatur terkenal; orang jahat klas kakap tiba-tiba menjadi sangat saleh; bangku-bangku gereja yang kosong melompong tiap minggu tiba-tiba terisi. Lalu jika nanti di tanggal 10 November tak terjadi sesuatu maka mereka akan kembali menjadi manusia yang lebih jahat bahkan boleh jadi rela menelan hidup-hidup akan sesamanya. Padahal seharusnya kita tahu bahwa kita mesti bersedia setiap saat untuk menyambut kedatangan Tuhan (Mat 24:44).
Keempat, orang kristen yang terus-menerus berpikir mengenai kedatangan Tuhan akan cenderung meningkatkan aktifitas ibadah mereka. Itu hal yang positif. Tetapi sebaliknya mereka tidak akan serius belajar, tidak akan serius bekerja dan jarang mengambil bagian dalam karya-karya sosial. Mereka bersikap pasif dan tidak bekerja karena, mereka pikir, toh semua yang diusahakan akan lenyap seketika pada hari kiamat yang kian dekat. Karena tidak serius bekerja maka untuk kebutuhan perut, mereka menjadi beban bagi keluarga dan anggota masyarakat lainnya. Di Tesalonika Rasul Paulus pernah berjumpa dengan sekelompok orang yang sedang menanti kedatangan Tuhan dan tidak mau bekerja. Kepada mereka Paulus dengan tegas berkata: “jika seorang tidak mau bekerja janganlah ia makan” (2 Tes 3:10).
Kelima, entah sudah berapa kali gereja dicela oleh pihak luar karena ada sejumlah oknum anggota berlagak seolah-olah mengetahui hari kiamat. Ternyata hari kiamat tidak kunjung tiba. Sementara itu kita menghadapi kenyataan bahwa terjadi perang di berbagai penjuru dunia, bencana alam, kecelakaan pesawat, dan berbagai bentuk musibah yang nota bene menelan ribuan korban manusia yang tak berdosa. Kenyataan ini mendorong lahirnya refleksi baru tentang makna kiamat. Bagi kita kiamat tidak harus berarti akhir dari dunia. Karena kiamat sudah dan sedang datang kepada kita seorang demi seorang saat kita mati, seperti tertulis dalam Injil Matius: “Pada waktu itu kalau ada dua orang di ladang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan; kalau ada dua orang perempuan sedang memutar batu kilangan, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan” (Mat 24:40-41). Kalau begitu maka persoalannya bukan pada kapan kiamat tiba, tetapi bagaimana seharusnya kita hidup dan berkarya sambil bersiap diri untuk menyongsong kiamat kita masing-masing.***

Wednesday, 8 August 2007

KEYS TO SUCCESS AT A WORKPLACE

It is generally accepted that job commitment is the key to success. By commitment or mental ability, someone has responsibility to do something. While I agree that job commitment is a key to success, I would argue that job commitment is not always the key to success. Other keys to achieve success are skill, atmosphere, and reward.

A job needs skill of its workers. Skill is the answer to the question: what kind of capacity that a worker has to have when he/she wants to do a kind of job. For example, as an advertiser the worker have to know about many things related to advertising, such as brand/kind of products, the user group, and method how to make sure the people to buy the products. More buyers, more money he/she gets. So, a skilled worker will give more supports (money) than an unskilled worker.

Atmosphere is also a key to success. A worker needs good atmosphere at work place. Good relationship with manager and other workers is a key to gain success. That is to say that if a worker has a bad relationship with others, there is not guarantee that he/she will get success.

At last, a worker needs a salary that is balanced with his/her workload. Workers needs not only money but also justice. In other words, a highly responsible worker has to get a high amount of salary, while a low responsible worker with low responsibility gains a low amount of salary too. A worker who gets a balanced salary will do his/her task with his/her entire heart and gain success.

In summary, I tend to say that commitment, skill, atmosphere, and reward are aspects that enable a worker to be successful at work.

Thursday, 19 July 2007

Perempuan Dalam Pandangan Kristen

Rasanya tidak tepat kalau kita berbicara tentang perempuan tanpa menyinggung tentang laki-laki. Tidak ada maksud untuk memisahkan apalagi mempertentangkan keduanya dalam tulisan ini. Kalau perempuan menjadi titik sorot itu hanya karena perempuanlah yang paling sering mengalami kekerasan baik dalam lingkup rumah tangga, dalam lingkungan budaya, maupun dalam lingkup organisasi kemasyarakatan. Fokus tulisan ini terarah kepada bagaimana pandangan Kristen (baca: ajaran Alkitab) tentang perempuan dan bagaimana pandangan itu mendorong perjuangan perempuan Kristen untuk mencapai kesetaraan gender.

Alkitab mengatakan bahwa Allah menciptakan perempuan dan laki-laki menurut gambar dan rupa Allah: “Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka” (Kej.1:27). Maksud dari ungkapan ‘menurut gambar Allah’ dalam ayat ini tidak dalam arti bahwa manusia itu sama hakekat dengan Sang Pencipta. Ungkapan itu lebih berarti bahwa Allah menciptakan manusia sebagai makluk mulia, kudus, dan berakal budi, sehingga manusia bisa berkomunikasi dengan Allah, serta layak menerima mandat dari Allah untuk menjadi pemimpin bagi segala makluk (Kej.1:28-30). Status se-“gambar” dengan Allah dimiliki tidak hanya oleh laki-laki, tetapi juga oleh perempuan. Kedua pihak punya status yang sama. Sebab itu tidak dibenarkan adanya diskriminasi atau dominasi dalam bentuk apapun hanya karena perbedaan jenis kelamin.

Jika demikian mengapa muncul diskriminasi dan dominasi antara perempuan dan laki-laki? Alkitab mencatat bahwa hubungan yang timpang antara laki-laki dan perempaun itu terjadi setelah manusia memakan buah yang dilarang oleh Allah (Kej. 3:12dst). Adam mempersalahkan Hawa sebagai pembawa dosa, sedangkan Hawa mempersalahkan ular sebagai penggoda. Tetapi akhirnya Allah menghukum Adam. Adam dihukum bukan hanya karena Adam ikut-ikutan makan buah yang Allah larang, tetapi juga karena ketika Hawa berdialog dengan ular sampai memetik buah, Adam ada bersama Hawa. Adam hadir di sana tetapi ia bungkam. Dengan kata lain, perbuatan Hawa sebenarnya mendapat restu dari Adam. Karena itu kesalahan ada pada kedua pihak. Itu berarti bahwa Adam dan kaum laki-laki tidak bisa menghakimi Hawa dan kaumnya sebagai pembawa dosa.

Dalam perkembangan selanjutnya peranan perempuan mulai dibatasi. Budaya Yahudi tidak banyak memberikan peluang kepada perempuan untuk berkiprah. Ada sejumlah tokoh perempuan yang muncul dalam sejarah Israel, tetapi peran mereka sangat terbatas. Di antara mereka ada Miryam, saudara perempuan nabi Musa. Miryam juga dipakai Allah sebagai nabiah. Ia dan Harun menegur Musa saat Musa kawin lagi dengan perempuan Kush. Meskipun Miryam dan Harun bersama-sama mengajukan protes namun Miryamlah yang mendapat hukuman. Terjadi semacam diskriminasi hukum antara laki-laki dan perempuan (Bil. 12). Diskriminasi itu juga terjadi ketika orang kawin. Dalam budaya Israel seorang suami bisa mengambil istri lebih dari satu orang (polygamy). Tetapi seorang istri tidak diperkenankan untuk mengambil suami lebih dari satu orang (poliyandry). Pada saat seorang perempuan melahirkan anak juga terjadi diskriminasi. Jika perempuan melahirkan anak laki-laki ia dianggap najis selama empat puluh hari. Sedangkan jika yang lahir adalah anak perempuan, maka ibu anak itu dianggap najis selama delapanpuluh hari (Imamat 12). Dua perempuan Israel yang dianggap mujur yakni Deborah---menjadi nabiah dan hakim di Israel---dan Ester sebagai permaisuri Raja Ahazweros (Hak. 4:4dst; Est 8).

Pada masa hidup Yesus, diskriminasi dan dominasi laki-laki atas perempuan masih tetap berlangsung. Ketika Yesus mulai mengangkat tugas-Nya, Ia bersikap menentang disriminasi dan dominasi itu. Suatu ketika pemimpin-pemimpin agama Yahudi menangkap seorang perempuan yang kedapatan berzinah lalu dibawa kepada Yesus. Mereka minta supaya perempuan ini dihukum rajam sesuai aturan Yahudi. Tetapi Yesus tidak peduli terhadap permintaan mereka. Fasalnya, mereka menangkap perempuan itu tapi tidak menangkap laki-laki yang tidur dengan dia. Yesus berkata kepada mereka: “Barangsiapa yang tidak berdosa hendaknya ia yang pertama kali merajam perempuan ini”. Tidak ada yang berani melakukannya. Akhirnya Yesus menyuruh perempuan itu pulang dengan nasihat supaya tidak berbuat dosa lagi (Yoh 8:2-11).

Dalam pelayanan-Nya, Yesus banyak menaruh perhatian kepada orang-orang yang dianggap sebagai ‘sampah’ masyarakat, termasuk di dalamnya beberapa perempuan. Salah satu di antaranya adalah Maria dari Magdala. Yesus menyembuhkan Maria dari ikatan roh jahat. Kemudian Maria dan beberapa perempuan lain mengiring Yesus dalam pelayanan-Nya (Luk 24:10). Lagi-lagi Yesus membela posisi perempuan ketika sejumlah orang Farisi datang kepada-Nya dan bertanya:”Apakah seorang suami bisa menceraikan istrinya dengan alasan apa saja?” Yesus menjawab mereka kata-Nya: sejak semula perkawinan hanya terjadi antara seorang laki-laki dan seorang perempuan (Adam-Hawa). Perceraian hanya bisa terjadi jika salah satu di antaranya berbuat zinah. Lalu orang-orang itu bertanya lagi: “Kalau begitu mengapa Musa mengijinkan seorang suami membuat surat cerai (talak)”? Lalu Yesus menjawab: karena ketegaran hatimulah Musa melakukan hal itu. Tapi seharusnya tidak demikian (Mat 19:1-12). Karena komitment-Nya terhadap kesetaraan perempuan dan laki-laki, maka pada saat Yesus mati di salib, banyak perempuan ada bersama-sama dengan Dia serta mengunjungi kubur-Nya.

Perjuangan menentang diskriminasi dan menegakkan hak-hak perempuan tidak berakhir pada saat Yesus terangkat ke langit. Perjuangan itu terus berlangsung dari abad ke abad. Umumnya orang mengakui bahwa perjuangan yang cukup sengit dimulai pada abad ke-18, terutama sesudah berakhirnya Revolusi Amerika (1775-1783) dan Revolusi Perancis (1789-1799). Kedua revolusi itu berhasil menanamkan nilai-nilai: kemerdekaan, kesetaraan, dan persaudaraan antara semua penduduk. Momentum ini dipakai oleh kaum perempuan untuk menuntut kesamaan hak dengan kaum lelaki. Selanjutnya pada tahun 1960-an terjadi gelombang protes anti perang dan perjuangan hak-hak sipil yang terjadi di Amerika Utara, berikut di Australia, dan di seluruh Eropah. Kesempatan itu dianggap tepat untuk memperjuangkan kesamaan hak antara laki-laki dan perempuan. Yang menarik perhatian kita sekarang, bahwa gerakan memperjuangkan kesetaraan gender sudah menjadi gerakan yang mendunia. Ia bukan hanya merupakan usaha dari kelompok agama tertentu, tetapi sudah menjadi gerakan bangsa-bangsa atas alasan kemanusiaan dan keadilan gender. Tentu kita mendukung semua perjuangan semacam itu.

Kapan ideologi kesetaraan dan kemitraan antara perempuan dan laki-laki itu benar-benar menjadi milik kita bersama? Kita belum bisa pastikan, kapan perjuangan itu tercapai. Jika di Republik ini masih ada perempuan yang menangis karena mengalami siksaan suami, atau karena diperkosa, atau karena ditinggal pergi oleh suami, atau karena hak-hak politiknya dibatasi, atau karena dijual sebagai budak seks, atau karena dipaksa untuk mencari nafkah bagi suami dan anak-anak, maka itu pertanda bahwa perjuangan ini belum berakhir. Meksi demikian kita optimis bahwa satu kali kelak badai akan berlalu. Perempuan akan duduk bersama dalam semangat kesetaraan dengan kaum laki-laki. Tugas kita sekarang adalah menyadarkan semua pihak bahwa perempuan dan laki-laki sama-sama adalah makluk ciptaan Tuhan yang mulia. Yang satu harus menerima yang lain sebagai mitra yang setara dan bekerja sama untuk kesejahteraan bersama. Semoga! ***


Keterangan: Artikel ini pernah dimuat dalam majalah INFO SULSEL vol.3 No. 4 Desember 2006.

GLOBALISATION’S IMPACTS ON FAMILY LIFE

Some people think that globalization is a dangerous virus that has infected many aspects of life, such as economy, politics, social-cultural, etc. It strongly attacks the strength of body, especially family life. Globalization, therefore, is refused, denied, or rejected by many people. Meanwhile, some people argue that globalization is the way that helps people to reach a great joy of life. Family, as a former institution of life, has many advantages from the so-called globalization. It is true to say that globalization actually has two sides of effects, negative and positive.

On one hand, there are some negative aspects of globalization. First of all, globalization offers a consumerist style of life. By using the power of advertisement, TV displays many kinds of food (Mc Donalds, KFC, and AW), beautiful clothes, luxurious cars (BMW) and houses, etc. Family members are forced to buy some things not because of neediness but of willingness. They spend more money to obtain satisfaction. In addition, globalization changes people’s way of thinking from communal to individualistic. For instance, in the past, all members in a house participated in preparing food and sat together to eat, but now each family member has his/her own choice of food; he/she can eat outdoors or indoors. Each member has his/her choice of clothes, films, or programmes on TV as well. Furthermore, globalization prepares many ways through which narcotics are promulgated to all over the world, and then to household members. Drug abuse threatens family members in Indonesia. Finally, globalization can also cause broken homes. By using cell-phones, a husband or wife can make contact easily with another spouse (in workplace) and end his/her relation with his/her spouse.

On the other hand, globalization can also cause several positive things. First, the development of communication technology has given benefits to many aspects of life. International networking (internet) shares information which can be accessible by people any where and at any time. Children can be guided to use the internet as a medium of studying. At the same time, globaliza-tion of information has brought several social values such as human rights and democracy. These norms are useful not only for social and political needs, but also for family life. Human rights awareness has encouraged people to give a balanced position between males and females, and between parents and children as well. Formerly, females and children did not have the opportunity to make decisions in a household, but now they have it. Finally, the acceleration of the development of communication, information, and transportation, has given the opportunity to people to know each other in the same world. Relationship and marriage with couples from overseas has formed Indonesian families to become global families. Although they are in Indonesia, they have family from different countries.

To sum up, globalization can be regarded as a knife in a hospital. It can be used by pick pockets to kill someone, but it also can be used by a surgeon to treat injuries or diseases in people. Therefore, globalization has to be seen not only as a dangerous virus that threatens people’s live’s, but also as an opportunity to make life become more meaningful. ***